Menahan pejabat di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Ridwan Sanjaya

Komisi Pemberantasan Korupsi, Jumat (15/7/2011), menahan pejabat di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Ridwan Sanjaya, yang menjadi tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan dan pemasangan solar home system (SHS) di Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi, Kementerian ESDM, tahun anggaran 2009.

Dari Gedung KPK Ridwan lalu digiring ke Rumah Tahanan Badan Reserse Kriminal Mabes Polri dengan mobil tahanan. Juru Bicara KPK Johan Budi mengungkapkan, Ridwan akan ditahan hingga 20 hari ke depan."Terhitung sejak hari ini hingga 20 hari pertama," kata Johan.

Saat dimintai komentar soal penahanannya, Ridwan enggan berkomentar. Ridwan yang mengenakan batik lengan panjang itu hanya menjawab, "Semua bertanggung jawab," saat ditanya siapa pihak yang paling bertanggung jawab dalam pengadaan SHS tersebut.

Sebelumnya, KPK menetapkan Ridwan sebagai tersangka bersama Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi ESDM Jacobus Purwono. Keduanya diduga bersama-sama melakukan tindak pidana korupsi dengan melakukan penggelembungan harga dan penyalahgunaan wewenang.

Selaku pejabat pembuat komitmen, Ridwan juga diduga menerima uang dari perusahaan penjual barang yang menjadi rekanan dalam proyek pengadaan itu.

Akibat perbuatan mereka, negara diduga mengalami kerugian sekitar Rp 131 miliar. Ridwan dan Jacobus lantas disangka melanggar Pasal 2 Ayat 1 dan atau Pasal 3 dan atau Pasal 5 dan atau Pasal 11 Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. Demikian catatan online SEO Support yang berjudul Menahan pejabat di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Ridwan Sanjaya.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama

Presiden Amerika Serikat Barack Obama dijadwalkan menghadiri pertemuan ASEAN Summit di Bali pada September 2011. Kedatangan Obama diyakini membawa citra positif bagi Bali dan Indonesia umumnya. Kedatangan Presiden Obama diyakini akan menumbuhkan kepercayaan masyarakat internasional dari aspek keamanan Indonesia dan kesiapan Bali menghelat acara skala dunia tersebut," kata anggota Komisi IV DPRD Bali, Tjokorda Raka Kerthyasa, di Denpasar, Selasa (12/7/2011).

Menurut Cok Kerthyasa, ini akan bermakna sangat positif. Tidak hanya bagus untuk pariwisata Bali, tetapi juga untuk Indonesia. Artinya, keamanan Indonesia sudah tidak perlu dipertanyakan dan Bali dianggap sangat spesial.

Karena itu, Cok Kerthyasa berharap kepercayaan tersebut jangan disia-siakan. Sebab, kepercayaan itu tidak datang begitu saja. Bali sendiri memulai prosesnya yang panjang sehingga dapat dipercaya dunia internasional. Apalagi, kedatangan Obama dipastikan akan semakin melambungkan nama Bali di dunia internasional.

"Maka, dari itu kita harus betul-betul menjaga kepercayaan itu. Bagaimana cara menjaganya, tentu saja dengan mempertahankan keseimbangan dan naturalisme alam, adat serta budaya Bali yang selama ini menjadi magnet pariwisata," kata budayawan Bali itu.

Cok Kerthyasa mengatakan, dampak lain terhadap kedatangan Obama adalah tumbuhnya pariwisata dan ekonomi Bali. Kedua aspek tersebut akan meningkatkan taraf hidup masyarakat Bali. "Banyak dampak positif yang ditimbulkan dengan kedatangan Obama. Contohnya waktu Julia Robert ke Bali saja dunia internasional semakin mengenal Bali, khususnya Ubud. Apalagi Presiden Obama. Pasti menggairahkan ekonomi Bali," ucap tokoh Puri Ubud ini.

Presiden Obama sudah dua kali dijadwalkan berkunjung ke Bali. Namun, ia gagal menginjakkan kakinya di Pulau Dewata. Kali ini, publik Bali berharap agar Obama benar-benar datang ke Bali. Demikian catatan online blog SEO Support yang berjudul Presiden Amerika Serikat Barack Obama.